Short Story byTita Desyara
~oOo~ IBU ~oOo~
~oOo~ IBU ~oOo~
Chapter 1
Audrey berjalan
malas menyusuri jalanan sekitar sekolahnya. Ia mendengus terkadang mengumpat
tak jelas sambil menghentakkan kaki ke jalanan yang ia lalui. Moodnya hari ini
sedang tidak begitu baik. Berbanding terbalik dengan cuaca sore yang cerah
dengan arakan langit biru. Orang-orang pun ramai berlalu lalang. Banyak yang
membawa kantung kantung besar berisi bingkisan yang indah dan lucu. Mereka
tersenyum sumringah.
Audrey hanya mencibir melihat pemandangan orang-orang di depannya.
"Cih! "
Audrey hanya mencibir melihat pemandangan orang-orang di depannya.
"Cih! "
Inilah hal yang
Audrey benci. Ia tak ingin keluar rumah saat orang-orang sibuk mempersiapkan
diri untuk merayakan hari 'istimewa' di tanggal 22 Desember. Coba tebak? Yup,
Hari Ibu akan datang satu minggu lagi. Audrey membenci itu. Karena ia tak
pernah merasakan apa itu hari ibu? Dan terlebih ia tak pernah tau kepada siapa
ia harus mengucapkan 'selamat hari ibu'. Bahkan ia tak tahu siapa figur
seseorang yang harus ia panggil ibu. Selama 17 tahun ia hidup, hanya kata sosok
'ayah' lah yang ia paham betul.
Selama 17 tahun sang ayah yang bekerja sebagai seorang pengusaha merangkap peran sekaligus menjadi ibu bagi Audrey.
Audrey mersa tuhan tak adil karena di saat yang lain memiliki ayah dan ibu. Ia hanya memiliki seorang ayah, yang bahkan sangat jarang ia temui.
Selama 17 tahun sang ayah yang bekerja sebagai seorang pengusaha merangkap peran sekaligus menjadi ibu bagi Audrey.
Audrey mersa tuhan tak adil karena di saat yang lain memiliki ayah dan ibu. Ia hanya memiliki seorang ayah, yang bahkan sangat jarang ia temui.
Audrey
benar-benar terpaksa keluar hari ini. Jika bukan karena sang kekasih, Jordan
memintanya untuk bertemu di caffe. Audrey pikir mereka akan membicarakan hal
penting.
-oOo-
Beberapa saat
kemudian, Audrey sampai di depan caffe tempat ia menghabiskan waktu bersama
Jordan. Ia membuka pintu. Dan segera menuju meja di dekat jendela. Tentunya
disana sudah ada Jordan yang duduk manis menunggu Audrey sedari tadi.
Audrey segera duduk menghadap Jordan.
Audrey segera duduk menghadap Jordan.
"Kau mau pesan apa, sayang?" tanya Jordan dengan
senyum yang manis. Senyum menawan yang bisa melelehkan hati wanita jika
melihatnya. Jordan tampan dan menyenangkan. Mungkin itu yang memikat Audrey,
wanita yang acuh dan sedikit kasar.
Audrey hanya memasang muka masam.
"Sebenarnya ada apa Jordan? Kenapa kau harus mengajakku keluar di 'saat' seperti ini?", Audrey melipat tangannya di dada.
"Sebenarnya ada apa Jordan? Kenapa kau harus mengajakku keluar di 'saat' seperti ini?", Audrey melipat tangannya di dada.
Jordan tersenyum jahil. Ia tahu maksud dari kata 'saat seperti
ini' yang dilontarkan Audrey. Jordan sangat tahu kalau Audrey Membenci hal-hal
yang berbau perayaan hari ibu.
"Tenang
dulu sayang. Tidak usah emosi seperti itu. Kau boleh memesan dulu. Aku tahu kau
lelah berjalan dari halte kemari", Jordan berusaha mengendalikan Audrey.
"Sudahlah
Jor. Jangan berbasa-basi. Kau tahu aku sedang tidak mood hari ini", Audrey
menimpali.
Jordan hanya bersmirk ria. Audrey hanya membalas tatapan membunuh untuk Jordan.
"Jor, tak usah tersenyum seperti itu. Bagiku itu menjijikkan tahu", Audrey kesal setengah mati. Ia beranjak dari duduknya. Ia benar-benar kesal dengan kekasihnya saat ini.
Jordan hanya bersmirk ria. Audrey hanya membalas tatapan membunuh untuk Jordan.
"Jor, tak usah tersenyum seperti itu. Bagiku itu menjijikkan tahu", Audrey kesal setengah mati. Ia beranjak dari duduknya. Ia benar-benar kesal dengan kekasihnya saat ini.
"Audrey,
aku tahu kau merindukan ibumu kan?" Jordan sedikit berteriak.
Audrey yang baru setengah melangkah terhenti sejenak. Apa yang dikatakan Jordan memang sedikit ada benarnya. Ia memang sangat merindukan sosok sang ibu. Yang ia sendiri tak pernah tau wajahnya seperti apa.
Audrey yang baru setengah melangkah terhenti sejenak. Apa yang dikatakan Jordan memang sedikit ada benarnya. Ia memang sangat merindukan sosok sang ibu. Yang ia sendiri tak pernah tau wajahnya seperti apa.
Audrey
berbalik. " kau hanya ingin mengajakku kesini hanya untuk membicarakan hal
bodoh itu?"
"Audrey,
apa kau tak ingin tahu keberadaan ibumu dimana?" , Jordan bertanya dengan
sedikit lebih lembut.
"Untuk apa? Ibuku meninggalkanku saat aku masih bayi. Ia
pergi dengan lelaki lain. Untuk apa aku mencari wanita yang telah menyakiti
ayahku" , Audrey mengepalkan tangannya.
Ia merasa kalau air matanya akan meluncur sedikit lagi. Tapi, ia berusaha menhannya. Ia tak ingin menangis di tempat umum seperti ini.
Ia merasa kalau air matanya akan meluncur sedikit lagi. Tapi, ia berusaha menhannya. Ia tak ingin menangis di tempat umum seperti ini.
Jordan mengusap
pundak Audrey. Jordan ingin menenangkan Hati kekasihnya yang sedang kacau balau
itu.
"Aku tahu. Tapi, setidaknya ibumu masih hidup kan? Selama tujuh belas tahun ini, aku tahu setidaknya kau ingin mengusap wajah ibumu kan Drey?"
Jordan hanya ingin Audrey tahu siapa ibu kandung yang sebenarnya. Ia ingin Audrey bahagia saat hari ibu datang dan bisa berbagi cerita dengan sang ibu.
"Aku tahu. Tapi, setidaknya ibumu masih hidup kan? Selama tujuh belas tahun ini, aku tahu setidaknya kau ingin mengusap wajah ibumu kan Drey?"
Jordan hanya ingin Audrey tahu siapa ibu kandung yang sebenarnya. Ia ingin Audrey bahagia saat hari ibu datang dan bisa berbagi cerita dengan sang ibu.
"Tapi ,
tetap saja aku membenci ibuku. Ia wanita yang jahat Jor." audrey teguh
dengan pendiriannya.
"Audrey,
bagaimana jika ibumu justru sekarang ada di dekatmu dan selalu meperhatikanmu
selama ini? Apa kau tak ingin menemui dan memaafkannya?", Jordan merujuk.
"Bukankah setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua?"
Audrey
menunduk. Ia rasa, dirinya pun tak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang
kebencian pada ibunya. Tapi, mengingat cerita dari sang ayah tentang ibunya
yang kejam itu, Audrey begitu membenci sang ibu.
"Percayalah
padaku. Seburuk apaun ibumu, ia tetap wanita yang melahirkanmu ke dunia,
Audrey", Jordan memegang lengan Audrey dengan erat. Jordan hanya ingin
Audrey Berhenti membenci ibunya.
"Stop!
Jordan. Hentikan semua omong kosong ini!" audrey mengibaskan pegangan
tangan Jordan. "Jangan pernah berbicara tentang dia lagi. Aku tak ingin
ayah semakin menderita. Bahkan aku harap ia tak ada lagi di dunia ini"
Audrey sudah
tak tahan lagi. Ia beranjak dari duduknya. Berlari keluar caffe. Ia tak peduli
dengan Jordan yang terus memanggilnya.
Audrey benar-benar kacau sekarang. Entah kemana ia akan pergi.
Audrey benar-benar kacau sekarang. Entah kemana ia akan pergi.
Jordan hanya
diam. Tak berniat mengejar Audrey. Ia tahu, kekasihnya itu memang butuh waktu
untuk menenangkan diri.
Jordan hanya bisa menatapnya dengan nanar.
Jordan hanya bisa menatapnya dengan nanar.
Sementara itu,
di seberang tempat duduk sana, terduduk seorang wanita yang cantik namun
bertubuh ringkih. Ia meneteskan air mata memandang perdebatan antara Jordan dan
Audrey.
Jordan menghampiri wanita paruh baya itu, dan mengusap pundaknya.
"Nyonya, jangan bersedih ya? Saya yakin lambat laun Audrey bisa menerima semuanya."
Jordan menghampiri wanita paruh baya itu, dan mengusap pundaknya.
"Nyonya, jangan bersedih ya? Saya yakin lambat laun Audrey bisa menerima semuanya."
"Tapi,
nak. Ibu benar-benar ingin meminta maaf pada Audrey. Ibu tidak ingin hidup
dengan rundungan rasa bersalah. Ibu tidak menyangka reaksi Audrey akan seperti
itu. Ibu rasa, ia tidak akan pernah memaafkan ibu". Wanita tua ini menangis
tersedu-sedu. Ia ingin memeluk Audrey, putri yang ia sangat rindukan selama 17
tahun ini. Jordan miris melihat wanita itu menangis tatkala mendengar dari jauh
semua ucapan yang dilontarkan Audrey.
"Bu,
Jordan janji. Jordan akan membuat Audrey menemui ibu. Walaupun sekali lagi,
Jordan harus berlutut di kakinya." Jordan memeluk wanita yang ternyata ibu
kandung Audrey. Jordan tak ingin melihat wanita ringkih ini terus menangis.
"Terima
kasih nak. Ibu benar-benar ingin memeluk Audrey."
Wanita tua ini menangis, mengingat masa lalu yang kelam dan pahit yang membuatnya harus meninggalkan Audrey saat lahir kedunia.
Wanita tua ini menangis, mengingat masa lalu yang kelam dan pahit yang membuatnya harus meninggalkan Audrey saat lahir kedunia.
To Be Continued...
Disclaimer: cerita ini mrni karangan saya. No copas! No plagiat!
Apabila terdapat nama, tempat, tokoh yang sama, sekali lagi ini hanya fikitf
belaka. Tolong hargai karya saya.
Cerita masih berlanjut. Hehehehhe
Cerita masih berlanjut. Hehehehhe