Jumat, 05 Juni 2015

IBU (Short story by Tita Desyara Wijaya)

Short Story byTita Desyara
~oOo~ IBU ~oOo~

Chapter 1 
            Audrey berjalan malas menyusuri jalanan sekitar sekolahnya. Ia mendengus terkadang mengumpat tak jelas sambil menghentakkan kaki ke jalanan yang ia lalui. Moodnya hari ini sedang tidak begitu baik. Berbanding terbalik dengan cuaca sore yang cerah dengan arakan langit biru. Orang-orang pun ramai berlalu lalang. Banyak yang membawa kantung kantung besar berisi bingkisan yang indah dan lucu. Mereka tersenyum sumringah.
Audrey hanya mencibir melihat pemandangan orang-orang di depannya.
"Cih! "
            Inilah hal yang Audrey benci. Ia tak ingin keluar rumah saat orang-orang sibuk mempersiapkan diri untuk merayakan hari 'istimewa' di tanggal 22 Desember. Coba tebak? Yup, Hari Ibu akan datang satu minggu lagi. Audrey membenci itu. Karena ia tak pernah merasakan apa itu hari ibu? Dan terlebih ia tak pernah tau kepada siapa ia harus mengucapkan 'selamat hari ibu'. Bahkan ia tak tahu siapa figur seseorang yang harus ia panggil ibu. Selama 17 tahun ia hidup, hanya kata sosok 'ayah' lah yang ia paham betul.
Selama 17 tahun sang ayah yang bekerja sebagai seorang pengusaha merangkap peran sekaligus menjadi ibu bagi Audrey.
Audrey mersa tuhan tak adil karena di saat yang lain memiliki ayah dan ibu. Ia hanya memiliki seorang ayah, yang bahkan sangat jarang ia temui.
            Audrey benar-benar terpaksa keluar hari ini. Jika bukan karena sang kekasih, Jordan memintanya untuk bertemu di caffe. Audrey pikir mereka akan membicarakan hal penting.
-oOo-
            Beberapa saat kemudian, Audrey sampai di depan caffe tempat ia menghabiskan waktu bersama Jordan. Ia membuka pintu. Dan segera menuju meja di dekat jendela. Tentunya disana sudah ada Jordan yang duduk manis menunggu Audrey sedari tadi.
            Audrey segera duduk menghadap Jordan.
"Kau mau pesan apa, sayang?" tanya Jordan dengan senyum yang manis. Senyum menawan yang bisa melelehkan hati wanita jika melihatnya. Jordan tampan dan menyenangkan. Mungkin itu yang memikat Audrey, wanita yang acuh dan sedikit kasar.
Audrey hanya memasang muka masam.
"Sebenarnya ada apa Jordan? Kenapa kau harus mengajakku keluar di 'saat' seperti ini?", Audrey melipat tangannya di dada.
Jordan tersenyum jahil. Ia tahu maksud dari kata 'saat seperti ini' yang dilontarkan Audrey. Jordan sangat tahu kalau Audrey Membenci hal-hal yang berbau perayaan hari ibu.
            "Tenang dulu sayang. Tidak usah emosi seperti itu. Kau boleh memesan dulu. Aku tahu kau lelah berjalan dari halte kemari", Jordan berusaha mengendalikan Audrey.
            "Sudahlah Jor. Jangan berbasa-basi. Kau tahu aku sedang tidak mood hari ini", Audrey menimpali.
Jordan hanya bersmirk ria. Audrey hanya membalas tatapan membunuh untuk Jordan.
            "Jor, tak usah tersenyum seperti itu. Bagiku itu menjijikkan tahu", Audrey kesal setengah mati. Ia beranjak dari duduknya. Ia benar-benar kesal dengan kekasihnya saat ini.
            "Audrey, aku tahu kau merindukan ibumu kan?" Jordan sedikit berteriak.
Audrey yang baru setengah melangkah terhenti sejenak. Apa yang dikatakan Jordan memang sedikit ada benarnya. Ia memang sangat merindukan sosok sang ibu. Yang ia sendiri tak pernah tau wajahnya seperti apa.
            Audrey berbalik. " kau hanya ingin mengajakku kesini hanya untuk membicarakan hal bodoh itu?"
            "Audrey, apa kau tak ingin tahu keberadaan ibumu dimana?" , Jordan bertanya dengan sedikit lebih lembut.
"Untuk apa? Ibuku meninggalkanku saat aku masih bayi. Ia pergi dengan lelaki lain. Untuk apa aku mencari wanita yang telah menyakiti ayahku" , Audrey mengepalkan tangannya.
            Ia merasa kalau air matanya akan meluncur sedikit lagi. Tapi, ia berusaha menhannya. Ia tak ingin menangis di tempat umum seperti ini.
            Jordan mengusap pundak Audrey. Jordan ingin menenangkan Hati kekasihnya yang sedang kacau balau itu.
"Aku tahu. Tapi, setidaknya ibumu masih hidup kan? Selama tujuh belas tahun ini, aku tahu setidaknya kau ingin mengusap wajah ibumu kan Drey?"
Jordan hanya ingin Audrey tahu siapa ibu kandung yang sebenarnya. Ia ingin Audrey bahagia saat hari ibu datang dan bisa berbagi cerita dengan sang ibu.
            "Tapi , tetap saja aku membenci ibuku. Ia wanita yang jahat Jor." audrey teguh dengan pendiriannya.
            "Audrey, bagaimana jika ibumu justru sekarang ada di dekatmu dan selalu meperhatikanmu selama ini? Apa kau tak ingin menemui dan memaafkannya?", Jordan merujuk. "Bukankah setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua?"
            Audrey menunduk. Ia rasa, dirinya pun tak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang kebencian pada ibunya. Tapi, mengingat cerita dari sang ayah tentang ibunya yang kejam itu, Audrey begitu membenci sang ibu.
            "Percayalah padaku. Seburuk apaun ibumu, ia tetap wanita yang melahirkanmu ke dunia, Audrey", Jordan memegang lengan Audrey dengan erat. Jordan hanya ingin Audrey Berhenti membenci ibunya.
            "Stop! Jordan. Hentikan semua omong kosong ini!" audrey mengibaskan pegangan tangan Jordan. "Jangan pernah berbicara tentang dia lagi. Aku tak ingin ayah semakin menderita. Bahkan aku harap ia tak ada lagi di dunia ini"
            Audrey sudah tak tahan lagi. Ia beranjak dari duduknya. Berlari keluar caffe. Ia tak peduli dengan Jordan yang terus memanggilnya.
Audrey benar-benar kacau sekarang. Entah kemana ia akan pergi.
            Jordan hanya diam. Tak berniat mengejar Audrey. Ia tahu, kekasihnya itu memang butuh waktu untuk menenangkan diri.
Jordan hanya bisa menatapnya dengan nanar.
            Sementara itu, di seberang tempat duduk sana, terduduk seorang wanita yang cantik namun bertubuh ringkih. Ia meneteskan air mata memandang perdebatan antara Jordan dan Audrey.
Jordan menghampiri wanita paruh baya itu, dan mengusap pundaknya.
"Nyonya, jangan bersedih ya? Saya yakin lambat laun Audrey bisa menerima semuanya."
            "Tapi, nak. Ibu benar-benar ingin meminta maaf pada Audrey. Ibu tidak ingin hidup dengan rundungan rasa bersalah. Ibu tidak menyangka reaksi Audrey akan seperti itu. Ibu rasa, ia tidak akan pernah memaafkan ibu". Wanita tua ini menangis tersedu-sedu. Ia ingin memeluk Audrey, putri yang ia sangat rindukan selama 17 tahun ini. Jordan miris melihat wanita itu menangis tatkala mendengar dari jauh semua ucapan yang dilontarkan Audrey.
            "Bu, Jordan janji. Jordan akan membuat Audrey menemui ibu. Walaupun sekali lagi, Jordan harus berlutut di kakinya." Jordan memeluk wanita yang ternyata ibu kandung Audrey. Jordan tak ingin melihat wanita ringkih ini terus menangis.
            "Terima kasih nak. Ibu benar-benar ingin memeluk Audrey."
Wanita tua ini menangis, mengingat masa lalu yang kelam dan pahit yang membuatnya harus meninggalkan Audrey saat lahir kedunia.
To Be Continued...

Disclaimer: cerita ini mrni karangan saya. No copas! No plagiat! Apabila terdapat nama, tempat, tokoh yang sama, sekali lagi ini hanya fikitf belaka. Tolong hargai karya saya.
Cerita masih berlanjut. Hehehehhe

Minggu, 30 November 2014

HALQAH ISLAM DAN PERADABAN-ROAD TO HIP #3

Dalam waktu dekat ini di Kota Tangerang akan diselenggarakan acara yang bernama Halqah Islam dan Peradaban. Acara ini merupakan yang ketiga kalinya yang diselenggarakan di Kota Tangerang yang mana sebelumnya juga diadakan HIP kedua pada taggal 28 September 2014.
            Pada acara HIP sebelumnya (HIP #2) mengalami sedikit kendala masalah pengadaan tempat pelaksanaan, dimana seyogyanya diselenggarakan di gedung Aula Al amanah Jln. Satria Sudirman atau di Aula Gedung Cisadane Jln. KS Tubun Kota Tangerang, yang mana kedua tempat itu secara mendadak dibatalkan perizinannya oleh pengelola gedung. Sehingga panitia memutskan untuk mengalihkan acara ke Gedung Aula Dakwah yang beralamat di Jln. Ki Samaun No. 17/175 Babakan Kota Tangerang.

            Semua upaya penggagalan terlaksananya acara HIP membuat penyelenggara yakni DPD II Hizbut Tahrir Kota Tangerang menyadari akan adanya pihak-pihak yang menghalang-halangi laju dakwah Hizbut Tahrir dalam menyampaikan seruan dakwahnya  kepada masyarakat. Dan semoga acara Halqah Islam dan Peradaban #3 dapat terlaksana dengan sukses meskipun ada banyak tantangannya. Aamiin ya rabbal ‘alamin.